Oleh : Agusyanto Bakar, SSos.,MSi
Kadishub Kepulauan Meranti
Suasana makam Marhum Buntat di kompleks pemakaman Tengku Sulung Cantik, jalan Tengku Umar Selatpanjang pada hari itu, Sabtu (12/4/2025) tidak seperti biasanya. Mengapa? Karena pada hari itu di selenggarakan Haul Perdana Tengku Busu Syed Ali Bin Tengku Putera Syed Ahmad Shahab Banahsan, Mangkubumi Kesultanan Siak Sri Indrapura.
Acara haul tersebut, di hadiri langsung oleh Tan Sri Syed Muhammad Yusof bin Tun Syed Nasir dari negeri jiran, salah satu cucu kandung dari Tengku Busu Syed Ali.
Tengku Busu Syed Ali telah menjadi simbol sejarah yang sangat penting, terutama dalam Kesultanan Siak Sri Indrapura. Ia melambangkan keberanian ketika bersikap menolak tunduk pada kaum penjajah dan dikenang karena kemuliaan akhlaknya, juga menjadi simbol kebesaran Kesultanan Siak Sri Indrapura pada masa lampau.
Masa lampau dalam konteks ini dipandang perlu untuk dilestarikan dan dikenang karena sarat dengan nilai sejarah yang edukatif. Dengan mengenang, mempelajari dan memahaminya, sejatinya merupakan salah satu bukti nyata telah menghargai sejarah, memetik kearifan darinya, terutama dalam merancang masa depan yang lebih baik. Oleh karenanya upaya pelestarian kompeks pemakaman Tengku Sulung Cantik sebagai peninggalan sejarah merupakan sebuah keniscayaan.
Apa lagi di kompleks pemakaman itu, selain Almarhum Tengku Busu Syed Ali Bin Tengku Putera Syed Ahmad Shahab Banahsan, bersemayam pula beberapa tokoh penting yang sangat besar jasanya, seperti Tengku Bagus Said Thoha, selaku pendiri Negeri Makmur Kencana Bandar Tebingtinggi, Tengku Besar Syarifah Kamlah, srikandi yang memerangi musuh kesultanan dan bergelar Srikandi Bintang Subuh serta Tengku Sulung Cantik (Marhum Buntat), sebagai Temenggung dan Penguasa Negeri Tebingtinggi pada masanya.
Maka tak berlebihan bila pelaksanaan haul perdana ini harus di pandang sebagai 'entry point' untuk pelaksanaan haul serupa di tahun-tahun mendatang dan dijadikan sebagai agenda rutin tahunan. Ini penting bukan sekedar rangkaian acara serimonial belaka dan bukan pula sekedar untuk 'show of force' atas kebesaran Kesultanan Siak Sri Indrapura pada masanya. Namun, peringatan haul menjadi bentuk penghormatan, mengenang jasa-jasanya dan meneladaninya sekaligus momentum untuk melakukan doa bersama, zikir, shalawat dan di samping itu pula, pelaksanaan haul menjadi salah satu upaya cerdas dalam melestarikan peninggalan sejarah.
Bahkan melalui sambutannya, Bupati Kepulauan meranti AKBP (Purn) H. Asmar sangat mengapresiasi acara haul ini dan berharap agar kompleks pemakaman Tengku Sulung Cantik ini dapat berstatus sebagai Cagar Budaya. Cagar budaya merupakan warisan budaya bersifat benda, bangunan, struktur, situs dan kawasan yang dikelola oleh pemerintah. Apalagi pemakaman Tengku Sulung Cantik ini memang memenuhi kriteria sebagai cagar budaya, sebagaimana kriteria yang telah ditetapkan dalam Undang-Undang (UU) Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya : Baik dari sisi usia bangunannya, nilai sejarah dan memiliki arti khusus bagi ilmu pengetahuan, pendidikan, agama serta budaya.
Oleh karenanya, dalam konteks ini pemerintah harus 'hadir' dan berperan aktif dalam melindungi dan memastikan agar cagar budaya tersebut dilestarikan, dilindungi, dan dimanfaatkan secara bertanggung jawab, baik dari sisi perlindungan hukum, kajian, pelestarian-rehabilitasi termasuk peningkatan infrastruktur, pengawasan, pemanfaatan yang berkelanjutan dan peningkatan kualitas pelayanan. Kesiapan dari aspek-aspek ini semua, tentu sangat berpotensi membuka ruang bagi kompleks pemakaman Tengku Sulung Cantik ini menjadi salah satu destinasi wisata religi yang menarik, sehingga para pengunjung dan peziarah dapat merasa nyaman serta mendapatkan pengalaman spiritual yang bermakna di sana dan dari destinasi wisata religi ini pula akan menjadi feedback yang berkontribusi sebagai nilai tambah dalam Pendapatan Asli Daerah.
Semoga.