Quo Vadis Pendidikan Nasional?

Selasa, 05 Mei 2026 | 12:13:08 WIB

Oleh: Saidul Amin, Rektor Universitas Muhammadiyah Riau

KHAZANAHRIAU.COM - Di dunia ini hampir tidak ada satu bangsa yang memiliki tujuan Pendidikan selengkap Negeri ini. Katanya tujuan Pendidikan nasional itu adalah: mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Ya Tuhan, jamik dan manik kata pakar Ilmu mantiq atau logika. Tidak ada celah untuk mengkritiknya, walaupun sekelas kritikus Rocky Gerung.

Saya yakin kalimat tersebut dirumuskan oleh mereka yang berakal sehat, lahir dan batin yang sangat faham bahwa masa depan Indonesia itu harus dipegang oleh mereka yang hidupnya didasari oleh Iman dan takwa. Didukung dengan sehatnya fisik. Dikembangkan oleh Ilmu pengetahuan. Merekalah yang akan menjadi sosok cakap, kreatif dan mandiri. Inilah warga negara sejati yang demokratis dan bertanggung jawab sebab mereka memiliki akhlak yang mulia. Bukan demokratis barbar dan biadab.

Tapi apakah tujuan Pendidikan itu memang sudah dijalankan dari level SD sampai Universitas? Agak susah juga menunjuk Perguruan Tinggi di Negeri ini yang output-nya menjadikan alumninya Dari berbagai rumpun keilmuan, baik itu dokter, Ir, ahli hukum, pakar ekonomi, jago politik, pendekar digital, AI, dll yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia dan sosok warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Rasanya kita perlu dukun sakti sekelas Phytia untuk mencarinya atau pakar telematika yang levelnya di atas Roy Suryo.

Saya Masih yakin kalau masa depan satu bangsa ditentukan oleh sistem pendidikannya. Kata John Dewey (1859-1952): "Education is not preparation for life, but Life itself". China maju, sebab ada karakteristik di Dunia pendidikannya. Demikian juga Iran, Jepang, singapura, bahkan Korea dan negara-negara Eropa. Mereka punya distingsi yang membedakan dari bangsa lain.

Ada nilai murni yang ditanam. Sebab hakikat Pendidikan itu nilai. Ini yang dikatakan oleh Williams SB: The aim of education is the knowledge. Not of facts, but values. Mereka faham haluan Pendidikan bangsanya harus berbasis nilai. Bangsa yang kehilangan nilai dan jatidiri adalah bangsa terjajah yang menunggu kehancuran, Ini yang diingatkan oleh penyair Arab, asal Mesir Ahmad Syauqi (1868-1932):

  انما الامم الأخلاق ما بقيت - فان هم ذهبت اخلاقهم ذهبوا

Artinya. Keabadian satu bangsa, tergantung kepada nilai dan karakter. Yang dalam bagas Arab disebut dengan akhlak. Sebab mereka tidak ingin menjadi bangsa yang punya sejarah masa lalu, tapi tidak punnya tempat di masa depan.

Kita bangsa besar yang pernah punya sejarah hebat. Ada sriwijaya, tapi jangan jadikan dia Sriwi-mundur. Ada majapahit, jangan dirubah jadi manja-genit. Ada singosari, jangan jadi singo-diam, ada Mataram jang jadi Mata-buram. Kita terlalu berhutang pada masa lalu. Jangan rusak masa depan. Kalau tidak, menumpang perkataan Kyai Gontor, Ustaz Hasan; sebaiknya para tokoh terdahulu jangan mati, dan kita jangan lahir.

Lalu bagaimana ini, mau kemana Pendidikan kita. Sesat di ujung jalan kembali ke pangkal. Kita sudah punya tujuan Pendidikan nasional yang sangat baik berbasis falsafah bangsa yang dirumuskan oleh pribadi-pribadi yang cerdas, maka tolong jangan dirusak oleh mereka yang culas. Dirumuskan oleh mereka yang berakal sehat. Jangan diutak-atik oleh mereka yang berakal sakit. Mari kita luruskan Kiblat Pendidikan bangsa. Selamat hari Pendidikan nasional.

Terkini