PEKANBARU, KHAZANAHRIAU.COM – Pemerintah Republik Indonesia memberikan apresiasi kepada 33 propinsi dan 460 kabupaten/kota di Indonesia, yang telah berhasil meraih predikat Universal Health Coverage (UHC) dengan pencapaian 95 persen. Pemberian apresiasi tersebut menjadi bukti sekaligus saksi atas keberhasilan Indonesia dalam memberikan perlindungan kesehatan bagi masyarakat Indonesia secara menyeluruh dalam kurun waktu 10 tahun.
Penghargaan UHC Award langsung diserahkan oleh Wakil Presiden Republik Indonesia, Ma'aruf Amin dalam acara Satu Dekade Progam JKN-KIS untuk Negeri, yang digelar, Kamis, (8/8) di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta. Tidak hanya bagi propinsi, penghargaan ini juga diberikan kepada pemerintah kabupaten kota sebagai bentuk apresiasi atas komitmen pemerintah daerah dalam mendaftarkan penduduknya pada Program JKN.
Ma'ruf Amin menyampaikan rasa terima kasihnya kepada seluruh pemerintah daerah yang telah menunjukkan komitmen tinggi dalam mendukung Program JKN. Pencapaian UHC di berbagai daerah ini menunjukkan komitmen negara dalam memberikan jaminan kesehatan bagi masyarakat Indonesia.
“Pencapaian ini tidak lepas dari sinergi dan kolaborasi yang solid antara BPJS Kesehatan, kementerian/lembaga, dan seluruh pemerintah daerah. Pemerintah daerah harus mendorong agar setiap penduduk yang berada di wilayahnya terdaftar sebagai peserta aktif dalam Program JKN,”ujar Ma’ruf Amin.
Wapres juga menegaskan bahwa pemerintah pusat, daerah, dan fasilitas kesehatan harus memastikan bahwa setiap warga negara dapat mengakses layanan kesehatan, tanpa terkendala biaya dan lokasi.
Selain itu, Indonesia juga mendapat pengakuan internasional dari International Social Security Association (ISSA). Penghargaan tersebut diserahkan oleh Presiden ISSA, Mohammed Azman, sebagai bentuk apresiasi atas keberhasilan Indonesia dalam mencapai UHC. Penghargaan ini semakin mengukuhkan posisi Indonesia di kancah global sebagai negara yang serius dalam perlindungan jaminan kesehatan.
“UHC sangat penting untuk memastikan bahwa setiap orang memiliki akses ke layanan kesehatan yang berkualitas, yang sejalan dengan prinsip kami. Dalam mencapai UHC, melibatkan berbagai upaya yang signifikan, seperti menjangkau semua masyarakat, dan memastikan pengelolaan Program JKN dalam rangka keberlanjutan finansial,” ucap Mohammed Azman.
Sementara itu, Direktur Utama BPJS Kesehatan, Ghufron Mukti juga mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada seluruh kepala daerah atas kesuksesan Program JKN. Katanya, capaian UHC di berbagai daerah merupakan bentuk implementasi pelaksanaan Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2022 tentang Optimalisasi Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).
“Jumlah kepesertaan JKN per 1 Agustus 2024 telah mencapai 276.520.647 jiwa, atau 98,15 persen dari total penduduk di Indonesia. Pencapaian ini bukan hanya tentang jumlah kepesertaan, tetapi juga memastikan seluruh penduduk memiliki akses terhadap layanan kesehatan,” kata Ghufron.
Untuk memastikan akses layanan kesehatan tersebut, per 1 Agustus 2024 BPJS Kesehatan telah bekerja sama dengan 23.205 Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) dan 3.129 Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjutan (FKRTL). Selain itu, BPJS Kesehatan juga memberikan pelayanan bagi masyarakat di Daerah Belum Tersedia Fasilitas Kesehatan Memenuhi Syarat (DBTFMS), di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), salah satunya melalui kerja sama dengan rumah sakit terapung.
"Sejak awal pelaksanaan Program JKN, BPJS Kesehatan terus mengalami peningkatan baik dari sisi penerimaan iuran maupun pemanfaatan layanan. Pada 2014, BPJS Kesehatan menerima iuran sebesar Rp40,7 triliun, sementara pada tahun 2023 jumlahnya meningkat menjadi Rp151,7 triliun dengan kolektibilitas iuran mencapai 98,62%," terang Ghufron.
Ghufron juga mengungkapkan bahwa pada tahun 2023, BPJS Kesehatan telah menggelontorkan Rp34,7 triliun untuk membayar pelayanan kesehatan 29,7 juta kasus penyakit berbiaya katastropik
"Penting untuk deteksi dini dalam rangka mengendalikan angka penderita penyakit berbiaya katastropik. Lebih cepat diketahui, lebih cepat penanganannya," ujar Ghufron.
Ghufron juga menjelaskan berbagai inovasi yang dikembangkan oleh BPJS Kesehatan, seperti Aplikasi Mobile JKN, yang memudahkan peserta dalam mengakses layanan administrasi dan fasilitas kesehatan.
"Aplikasi Mobile JKN menyediakan berbagai fitur dalam mempermudah layanan administrasi JKN, seperti pendaftaran bagi peserta mandiri, perubahan FKTP, skrining riwayat kesehatan, konsultasi dengan dokter di FKTP, hingga pencarian fasilitas kesehatan terdekat.
"Fitur Antrean Online juga memungkinkan peserta untuk mengambil nomor antrean secara praktis, memudahkan akses layanan JKN tanpa harus menunggu lama," kata Ghufron.
Selain itu, Ghufron menuturkan fitur i-Care JKN, yang memungkinkan peserta JKN dan dokter di fasilitas kesehatan mengetahui riwayat kunjungan, obat yang diberikan, hingga tindakan yang pernah dijalani. Dengan demikian, dokter dapat memberikan tindakan yang cepat dan tepat bagi peserta JKN.
"Pada 2014, tercatat 92,3 juta pemanfaatan per tahun, sementara pada tahun 2023 angkanya meningkat menjadi 606,7 juta pemanfaatan, atau sekitar 1,7 juta pemanfaatan layanan setiap harinya. Hal ini menunjukkan bahwa semakin banyak masyarakat yang percaya dengan Program JKN," pungkas Ghufron.
Ghufron juga menegaskan bahwa BPJS Kesehatan kembali mencatatkan predikat Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) atau Wajar Tanpa Modifikasian (WTM) untuk laporan keuangan selama 10 kali berturut-turut.
"Pencapaian ini menunjukkan konsistensi BPJS Kesehatan dalam menerapkan tata kelola yang baik, serta menjalankan Program JKN dengan prinsip kehati-hatian dan akuntabilitas," kata Ghufron.
Menurutnya, mengelola jaminan kesehatan bagi ratusan juta jiwa penduduk Indonesia bukanlah tugas yang mudah, mengingat ekosistem JKN yang kompleks dan ekspektasi masyarakat yang terus meningkat. Dengan Program JKN, diharapkan kualitas hidup masyarakat Indonesia semakin baik.
"Maka dari itu saya mengajak seluruh kepala daerah untuk mendaftarkan seluruh warganya sebagai peserta JKN bagi yang belum memperoleh predikat UHC. Bagi yang telah meraih predikat UHC, diharapkan untuk mempertahankan dan memastikan bahwa seluruh penduduk telah didaftarkan sebagai peserta JKN," tutup Ghufron.

Sementara itu dalam kesempatan terpisah, Pps. Kepala BPJS Kesehatan Cabang Pekanbaru Gunardi Candra mengatakan pencapaian UHC yang diraih oleh propinsi Riau tercatat sudah melebihi dari target yang telah ditetapkan. "Kita tentunya bangga karena cakupan peserta JKN-KIS melalui BPJS Kesehatan sudah melebihi dari target yakni diangka 98 persen. Indonesia merupakan negara yang paling cepat mendapat predikat UHC dibandingkan negara di Asia. Hanya dalam kurun waktu hanya dalam 10 tahun saja atau satu dekade Indonesia sudah meraih predikat UHC,"ujar Gunardi.
Ia juga menjelaskan bahwa pihaknya sangat bangga karena bisa memberikan kontribusi khususnya di propinsi Riau, cabang Pekanbaru diakhir masa pemerintahan Presiden RI. Ini tentunya bisa menjadi sejarah baru, karena hanya dalam satu dekade saja program JKN sudah bisa mencakup seluruh peserta. Untuk wilayah kerja kota Pekanbaru capaian UHC sudah diangka 99,24 persen dari jumlah penduduk sebanyak 1.123.348 jiwa.
Dengan rincian capaian wilayah kerja, yakni Siak mencapai 100,75 persen dengan jumlah penduduk sebanyak 480 ribu jiwa, Pelalawan mencapai 100,17 persen dari jumlah penduduk sebanyak 422 ribu, Kampar meraih capaian 100,65 persen dengan jumlah pendudukan 896 ribu jiwa. Kemudian ditambah dengan Rohul yang merupakan propinsi terakhir yang meraih predikat UHC pada Juli 2024 lalu sudah mencapai 97,9 persen dari jumlah penduduk 573 persen.
"Kita sudah meraih UHC, dan hari ini kita meraih penghargaan dari pusat. Pencapaian ini dilakukan dari hulu hingga ke hilir, tujuannya agar seluruh masyarakat bisa mendapatkan layanan kesehatan tanpa harus terhambat finansial,"pungkasnya. (ayu)