Logo khazanahriau.com

Israel Umumkan Jeda Militer untuk Biarkan Bantuan Masuk ke Gaza

Israel Umumkan Jeda Militer untuk Biarkan Bantuan Masuk ke Gaza
foto: anadolu ajansi

 GAZA, KHAZANAHRIAU.COM – Pasukan penjajah Israel (IDF) menyatakan akan memberlakukan jeda militer harian untuk memungkinkan masuknya bantuan ke Jalur Gaza. Hal ini disampaikan menyusul menguatnya seruan dunia terkait kelaparan parah di Gaza akibat blokade Israel.

The Times of Israel melansir, militer Israel akan melakukan “jeda aktivitas militer taktis lokal” di wilayah padat penduduk di Jalur Gaza, mulai pukul 10.00 pagi hingga 20.00 malam, IDF mengumumkan.

Militer mengatakan jeda akan dilakukan di wilayah di mana IDF saat ini tidak beroperasi dengan pasukan darat, termasuk al-Mawasi, Deir al-Balah, dan Kota Gaza. “Jeda diberlakukan setiap hari hingga pemberitahuan lebih lanjut.”

“Langkah ini dilakukan sesuai dengan arahan dari eselon politik, dan sebagai bagian dari upaya berkelanjutan IDF, yang dipimpin oleh COGAT, untuk meningkatkan cakupan bantuan kemanusiaan yang memasuki Jalur Gaza,” kata militer. Menurut pernyataan itu, keputusan ini dikoordinasikan dengan PBB dan organisasi internasional.

Selain itu, IDF mengatakan “rute aman” akan ditetapkan mulai pukul 06.00 hingga 23.00. “Rute ini untuk memungkinkan perjalanan yang aman bagi konvoi PBB dan organisasi bantuan kemanusiaan yang mengantarkan dan mendistribusikan makanan dan obat-obatan kepada penduduk di seluruh Jalur Gaza.”

Selama berminggu-minggu, PBB, puluhan lembaga dan pemerintah di seluruh dunia telah menyuarakan kekhawatiran mengenai kelaparan akibat ulah manusia yang terjadi di Gaza, dimana lokasi bantuan telah berubah menjadi jebakan maut. Pada hari Sabtu, 42 warga Palestina yang kelaparan terbunuh saat mencoba mendapatkan makanan. Lebih dari 1.000 orang kini tewas saat menunggu makanan dari pasukan Israel dan tentara bayaran AS.

Pencarian pangan juga belakangan kian sulit di Gaza. Sekantong tepung bisa membuat para pencari bantuan Palestina kehilangan nyawanya, namun mereka mengatakan tidak ada pilihan lain.

"Saya datang sejauh ini, mempertaruhkan hidup saya demi anak-anak saya. Mereka belum makan selama seminggu," kata Smoud Wahdan sambil menggendong bayinya. "Saya menderita karena kekurangan makanan, berpindah dari satu tempat ke tempat lain untuk mencari sesuatu untuk dimakan. Paling tidak, saya telah mencari sepotong roti untuk anak-anak saya."

Tahani, seorang perempuan pengungsi lainnya di Kota Gaza, memohon bantuan. "Saya datang untuk mencari tepung, mencari makanan untuk memberi makan anak-anak saya. Saya mempunyai seorang anak yang menderita kanker," katanya. "Saya berharap para pengikut Tuhan akan bangun dan melihat semua orang ini. Mereka sedang sekarat."

Pengumuman IDF dilakukan menyusul tekanan berbagai negara terhadap Israel atas kondisi di Gaza. Yang terkini, Perdana Menteri Australia Anthony Albanese mengatakan bahwa setiap orang dapat melihat bahwa blokade Israel terhadap bantuan yang memasuki Gaza adalah pelanggaran terhadap kemanusiaan dan moralitas.

Dia melontarkan komentar tersebut dalam sebuah wawancara dengan lembaga penyiaran publik ABC. “Jelas sekali, penghentian pengiriman makanan merupakan pelanggaran hukum internasional, yang merupakan keputusan yang dibuat Israel pada Maret,” katanya.

Ketika ditanya apakah Australia akan mengikuti jejak Prancis dalam mengakui negara Palestina, Albanese mengatakan bahwa hal itu bukanlah sesuatu yang direncanakan pemerintahnya untuk dilakukan dalam waktu dekat.

Dia mengatakan Australia akan menjadikan keputusan tersebut sebagai “sebuah jalan ke depan jika kondisinya terpenuhi”. Ia juga mengindikasikan sukarnya menyingkirkan Hamas dari persoalan Palestina. “Bagaimana Anda mengecualikan Hamas dari keterlibatan apa pun di sana?”

Kelompok Palestina sebelumnya mengatakan mereka akan menyerahkan kendali atas Gaza kepada pemerintah sementara yang didukung oleh masyarakat internasional dengan imbalan gencatan senjata permanen. Namun, mereka tidak akan meletakkan senjatanya selama pendudukan Israel di wilayah Palestina terus berlanjut.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan kepada Fox News bahwa utusan khusus Trump, Steve Witkoff, telah bekerja “siang dan malam selama berminggu-minggu” dalam perundingan gencatan senjata. “Mereka telah membuat banyak kemajuan dan hampir mencapai kesepakatan,” kata Rubio.

“Kami optimis dan berharap bahwa suatu hari nanti, kami akan mencapai perjanjian gencatan senjata di mana setidaknya setengah dari sandera, termasuk yang meninggal, akan dibebaskan, dan pada akhir periode 60 hari itu, sandera yang tersisa akan dibebaskan,” katanya.

"Kabar baiknya adalah setiap warga Amerika sudah keluar sekarang. Kami peduli dengan semua sandera. Ada solusi yang sangat sederhana terhadap apa yang terjadi di Gaza. Bebaskan semua sandera, letakkan senjata Anda, dan perang untuk Hamas berakhir,” katanya.

Pernyataan Rubio muncul beberapa hari setelah Witkoff mengatakan Washington mengurangi keterlibatannya dalam perundingan tersebut, mengklaim Hamas telah menunjukkan “kurangnya keinginan untuk mencapai gencatan senjata”.***(republika)

Berita Lainnya

Index