Logo khazanahriau.com

Geber Boikot, AWG: Super Efektif Tekan Kebiadaban Israel

Geber Boikot, AWG: Super Efektif Tekan Kebiadaban Israel
Bertepatan dengan momentum peringatan 70 tahun Konferensi Asia Afrika (KAA) Puluhan massa dari Solidaritas Seni Palestina dan Bandung Spirit for Palestina menggelar aksi Gaza Memanggil, di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Jumat (25/4/2025). Dalam aksi bel

JAKARTA, KHAZANAHRIAU.COM - Di tengah ancaman krisis pangan dan obat-obatan akibat penutupan pintu-pintu perbatasan dengan Jalur Gaza yang dilakukan Israel sejak Maret 2025, Aqsa Working Group (AWG), Jumat, menyerukan pemboikotan global atas berbagai produk pendukung rezim Zionis.

"Aksi Jumat kali ini, AWG mengangkat seruan penguatan boikot global karena gerakan sipil yang paling efektif untuk melemahkan, dan bahkan dapat menghentikan Zionisme, adalah boikot global," kata Ketua Presidium M. Anshorullah.

Dalam pernyataan persnya di Jakarta, Jumat,Anshorullah juga mendesak seluruh rakyat Indonesia untuk terus memboikot produk-produk dengan merk dagang yang terafiliasi dengan Zionis Israel.

"Jangan biarkan kita dan seluruh keluarga kita membeli atau mengkonsumsi produk-produk yang terafiliasi dengan Zionis Israel karena menggunakan produk mereka akan memperkuat Zionis dalam melancarkan kejahatan di Palestina," katanya.

Dia menggarisbawahi efektivitas Gerakan Boikot, Divestasi, dan Sanksi (BDS) yang sudah berjalan selama 19 tahun.

Menurut Anshorullah, aksi boikot memiliki dampak yang signifikan terhadap upaya mengisolasi penjajah Israel karena perusahaan multinasional seperti G4S, Veolia, Orange, Puma, dan Pillsbury, misalnya, menghentikan sebagian, dan bahkan seluruh dukungannya terhadap rezim Zionis yang telah membantai begitu banyak warga Palestina itu.

"Boikot sekarang juga. Boikot sampai Palestina merdeka dan Masjid Al Aqsa terbebaskan," katanya.

Anshorullah juga menilai bahwa Indonesia perlu melakukan upaya luar biasa dan berkelanjutan untuk menghentikan kezaliman genosida Zionis di Gaza yang benar-benar sudah melampaui batas.

Aksi yang mengusung tema 'Lawan Zionis Israel, Boikot Produk Pendukungnya' itu merupakan edisi ke-8 dan rutin digelar setiap Jumat di depan Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta.

Disebutkan bahwa aksi tersebut merupakan salah satu upaya berkelanjutan untuk melawan genosida Israel di Gaza.

Semakin Masif
Analis perilaku konsumen Megel Jekson memprediksi aksi boikot terhadap produk-produk yang terafiliasi dengan Israel akan semakin masif di Indonesia, seiring dengan adanya peningkatan agresi militer Israel terhadap warga sipil Palestina dalam sebulan terakhir.

Megel kepada wartawan di Jakarta, Selasa, mengatakan aksi boikot tersebut berpotensi semakin masif karena kemarahan umat Muslim Indonesia juga semakin membesar akibat agresi militer itu.

“Lihat saja, aktivitas boikot produk Israel dan produk-produk terafiliasi Israel di Indonesia akan semakin membesar. Umat Islam Indonesia yang marah akan menunjukkannya dengan semakin masif melakukan boikot. Boikot dianggap sebagai jalan jihad yang paling rasional dan paling mudah untuk dilakukan,” ujar dia.

Ia pun berpandangan semakin masifnya kampanye boikot di media sosial turut memperkuat kesadaran konsumen keterkaitan antara konsumsi harian dan konflik kemanusiaan di Palestina. Menurut dia, narasi yang dibangun dalam kampanye boikot berhasil memberikan landasan rasional serta tujuan jelas yang bisa diterima oleh publik.

“Muslim Indonesia yakin boikot produk bisa menghentikan aliran dana ke Israel dan pada akhirnya bisa menghentikan kebiadaban IsraHell. Jadi pilihan rasional selain berjihad langsung ke Palestina adalah boikot produk,” kata dia.

Lebih lanjut Megel juga menyoroti keberanian sejumlah elemen masyarakat sipil, termasuk organisasi intelektual Islam, dalam menyebut merek-merek yang dinilai memiliki keterkaitan langsung maupun tidak langsung dengan Israel. Hal itu, kata dia, menjadi faktor penting dalam mengarahkan boikot secara tepat sasaran.

Diketahui beberapa organisasi seperti Yayasan Konsumen Muslim Indonesia (YKMI) dan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) telah merilis daftar produk yang patut diboikot.

“Langkah ini membuat gerakan boikot menjadi lebih terarah dan efektif. Masyarakat tidak lagi bertanya-tanya produk mana yang harus dihindari,” ujar Megel.

Berikutnya, Megel menilai gelombang boikot yang semakin masif nantinya akan mampu membuka peluang besar bagi pertumbuhan produk lokal dan UMKM dalam negeri. Menurut dia, pergeseran konsumsi ke produk nasional dapat menjadi momentum kebangkitan ekonomi rakyat.

“Kalau boikot produk terafiliasi Israel semakin besar, inilah waktu yang paling tepat untuk membuat produk nasional dan UMKM lokal mendominasi konsumsi Muslim di Indonesia. Jangan biarkan satu rupiah pun uang kita mengalir menjadi desing peluru untuk menembaki anak-anak dan warga Muslim di Gaza,” ujarnya.

Ia menambahkan keberhasilan boikot tidak hanya diukur dari penurunan penjualan produk-produk tertentu, namun juga dari meningkatnya kemandirian ekonomi umat dan menguatnya ekosistem industri halal dalam negeri. (*)

Berita Lainnya

Index