Logo khazanahriau.com

Paus Fransiskus Wafat, Begini Hubungan Baiknya dengan Islam

Paus Fransiskus Wafat, Begini Hubungan Baiknya dengan Islam
Pemimpin Gereja Katolik Dunia Paus Fransiskus mencium tangan Imam Besar Masjid Istiqlal Nasaruddin Umar di Masjid Istiqlal, Jakarta, Kamis (5/9/2024).Foto: Republika/Thoudy Badai

VATIKAN, KHAZANAHRIAU.COM – Gereja Katolik Roma mengumumkan wafatnya Paus Fransiskus pada Senin, 21 April 2025. Sepanjang karirnya sebagai pendeta Katolik hingga menjadi pemimpin tertinggi umat Katolik, Fransiskus mencoba membangun hubungan baik dengan umat Islam.

Cendekiawan Islam dan Jesuit, Felix Koerner, mengungkapkan, di kampung halamannya di Buenos Aires, Paus Fransiskus sudah berteman dengan Omar Abboud, seorang tokoh penting Muslim di Argentina. Abboud adalah salah satu presiden Institut Dialog Antaragama di Buenos Aires, dan mantan sekretaris jenderal Islamic Center Argentina.

Sejak awal masa kepausannya, Paus Fransiskus telah menjadikan upaya untuk menjangkau umat Islam sebagai prioritasnya. Pada Maret 2013, ia membasuh kaki dua remaja Muslim sebagai bagian dari Misa Kamis Putih yang ia rayakan di pusat penahanan remaja di Italia. Dia mengulangi tindakannya pada tahun 2016, mencuci kaki beberapa imigran Muslim di pusat pencari suaka dekat Roma.

Setelah terpilih, Paus Fransiskus juga membawa serta persahabatan antaragama yang telah lama terjalin dari negara asalnya, Argentina. Pada 2014, ia melakukan perjalanan ke Israel, Yordania, dan Palestina bersama Rabbi Abraham Skorka dan Sheikh Omar Abboud.

Pada tahun 2019, Paus Fransiskus mengunjungi Abu Dhabi, di mana ia dan Imam Besar Al-Azhar Mesir, Sheikh Ahmad el-Tayeb, menandatangani "Dokumen Persaudaraan Manusia untuk Perdamaian Dunia dan Hidup Bersama." Teks tersebut mengundang “semua orang yang beriman kepada Tuhan dan beriman pada persaudaraan manusia untuk bersatu dan bekerja sama,” sambil menegaskan hak asasi manusia universal dan menyerukan “rekonsiliasi dan persaudaraan di antara semua orang beriman, bahkan di antara orang beriman dan tidak beriman, dan di antara semua orang.” orang-orang yang berkehendak baik."

Lima kunjungan Paus ke Afrika, termasuk kunjungannya pada Januari 2023 ke Kongo dan Sudan Selatan, juga merupakan dukungan kuat terhadap dialog Muslim-Katolik, seperti dilansir ucanews.com.

Pendekatan Vatikan kepada umat Islam tersebut sedianya sudah jadi salah satu agenda sejak 1960-an. Kala itu, Konsili Vatikan II telah menyepakati perlunya penghormatan terhadap umat Islam sebagai komunitas yang mengagungkan Tuhan dan menjalankan agama Ibrahim. Dalam putusan konsili pada 1964, Vatikan bahkan memasukkan umat Islam sebagai mereka yang masuk dalam skema penyelamatan Tuhan tanpa harus bergabung dengan Gereja Katolik.

Dalam beberapa kesempatan, Paus Fransiskus juga membela saat simbol-simbol Islam dihinakan. Selepas pembakaran dan perobekan Alquran di Swedia pada Juli 2023 misalnya, Paus mengatakan pembakaran kitab suci umat Islam, Alquran, telah membuatnya marah dan muak dan bahwa ia mengutuk dan menolak mengizinkan tindakan tersebut sebagai bentuk kebebasan berbicara.

“Kitab apa pun yang dianggap suci harus dihormati untuk menghormati mereka yang mempercayainya,” kata Paus dalam sebuah wawancara di surat kabar Uni Emirat Arab Al Ittihad, yang diterbitkan pada Senin. “Saya merasa marah dan muak dengan tindakan ini.

“Kebebasan berpendapat tidak boleh digunakan sebagai sarana untuk merendahkan orang lain dan membiarkan hal tersebut harus ditolak dan dikutuk.”

Pada 2015, Paus Fransiskus juga membela kemarahan Muslim saat majalah satir Charlie Hebdo memuat kartun menghina Nabi Muhammad. Ia mengatakan kebebasan berekspresi ada batasnya.  Ia mengatakan hal itu ketika diwawancarai wartawan di pesawat kepausan didampingi Alberto Gasparri, yang mengatur perjalanannya dan berdiri di sisinya saat itu. “Jika teman baik saya Dr Gasparri melontarkan kata-kata makian terhadap ibu saya, dia bisa saja menerima pukulan,” kata Francis sambil berpura-pura melayangkan pukulan ke arahnya.

Dia menambahkan: “Itu normal. Anda tidak bisa memprovokasi. Anda tidak bisa menghina iman orang lain. Anda tidak bisa mengolok-olok iman orang lain.” Komentar itu membuat Paus mendapatkan sorotan di Eropa karena dilontarkan selepas serangan teroris ke kantor majalah Charlie Hebdo.

Paus Fransiskus dan Gaza...

Saat Gaza diserang Israel, Paus Fransiskus berulang kali menyampaikan keprihatinannya. Paus Fransiskus berulang kali mengkritik Israel atas pembunuhan anak-anak Palestina. “Dan dengan rasa sakit, saya memikirkan Gaza, tentang kekejaman yang begitu besar, tentang anak-anak yang ditembak dengan senapan mesin, tentang pemboman terhadap sekolah dan rumah sakit. Sungguh kejam,” katanya menjelang Natal 2024 lalu.

Ia juga merestui ditampilkannya karya instalasi yang menampilkan bayi Yesus dalam reruntuhan dibalut keffiyeh, melambangkan penderitaan di Palestina.  Komentar Paus Fransiskus kerap membuat berang pemerintah Israel. Saat itu, media Israel melaporkan bahwa Kementerian Luar Negeri Israel memanggil duta besar Vatikan atas komentar Paus yang mengkritik pembunuhan Israel di Gaza sebagai “kekejaman”.

Paus Fransiskus dilaporkan terus menghubungi paroki di Jalur Gaza untuk menanyakan kondisi di wilayah itu, meski tengah dirawat di rumah sakit. Paus sepekan belakangan dirawat di rumah sakit karena infeksi saluran pernafasan yang oleh dokter digambarkan sebagai “situasi klinis yang kompleks.”

Dalam sebuah wawancara dengan Vatican News, Pendeta Gabriel Romanelli, pastor paroki Gereja Keluarga Kudus, satu-satunya gereja Katolik Roma di Gaza, mengatakan Paus Fransiskus menelepon dari rumah sakit pada pukul 20.00 waktu Gaza setiap malam. Kadang-kadang dia menghubungi mereka melalui panggilan video, menurut Vatikan, dan kadang-kadang melalui pesan teks.

Paus mempertahankan kontak hampir setiap hari dengan gereja ini selama agresi Israel ke Jalur Gaza yang dimulai pada Oktober 2023. Romanelli mengatakan bahwa dalam panggilan telepon ini, Paus Fransiskus menanyakan kabar dia dan umat paroki Palestina dan mengirimkan berkatnya kepada mereka.

“Meskipun kami mengalami pemadaman listrik di seluruh wilayah Kota Gaza, dia bersikeras dan berhasil menghubungi kami melalui panggilan video,” katanya, menurut outlet media Vatikan.

Saat sempat pulih dari sakitnya pada Desember 2024, hal pertama yang dilakukan Paus Fransiskus adalah menanyakan kabar paroki Katolik di Gaza. Dilaporkan Independent Catholic News, Paus Fransiskus menelepon paroki Katolik di Gaza kemarin dan melakukan beberapa tugas lainnya. Sementara kondisinya stabil, tanpa insiden pernafasan baru.

Paus Fransiskus sempat tampil ke hadapan publik pada hari Minggu Paskah, Ahad (20/4/2025). Pimpinan tertinggi umat Katolik tersebut menyapa puluhan ribu jamaah dari mobil kepausan di Lapangan Santo Petrus untuk pertama kalinya sejak ia pulih dari pneumonia ganda.

Meskipun ia tidak memimpin Misa Paskah Vatikan secara penuh karena keterbatasan kesehatan, Paus Fransiskus muncul di akhir kebaktian untuk menyampaikan berkat tradisional "Urbi et Orbi", sebuah pesan "kepada kota dan dunia."

Dalam sebuah pernyataan yang dibacakan dengan lantang oleh seorang ajudan, pesan Paskah Paus menggambarkan situasi di Gaza sebagai "dramatis dan menyedihkan." Ia mendesak semua pihak yang bertikai untuk menyetujui gencatan senjata segera.

"Saya mengimbau kepada pihak-pihak yang bertikai: menyerukan gencatan senjata, membebaskan para sandera, dan datang untuk membantu orang-orang yang kelaparan yang mendambakan masa depan yang damai," bunyi pernyataan itu. (*)

Berita Lainnya

Index