Kelompok Wirani Dumai salah satu UMKM Binaan Pertamina sebaai salah satu penerima bantuan program CSR PEKANBARU, KHAZANAHRIAU.COM - Guna menjalankan tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL), PT. Pertamina Hulu Rokan (PHR) membangun program Corporate Social Responsibility (CSR) yang menggaung beberapa bidang seperti ekonomi, kesehatan, dan pemberdayaan masyarakat. Keterangan ini di sampaikan oleh Victorio Candra selaku Senior Officer Media Relation Zona 4 PHR saat konferensi pers yang berlangsung di Fakultas Ilmu Komunikasi (FIKOM) Universitas Islam Riau (UIR) pada Jumat, (06/11/2026).
Dalam konferensi pers tersebut Victorio menyampaikan bahwa, pelaksanaan program TJSL difokuskan pada masyarakat yang berada di wilayah ring satu Perusahaan meliputi kawasan sekitar sumur pengeboran, fasilitas produksi, dan kantor operasional PHR. Lokasi ini berada di Pekanbaru, Siak, Kampar, Rokan Hulu, Rokan Hilir, dan Dumai.
Menurut Victorio, untuk mendapatkan sasaran yang tepat diawali dengan pemetaan sosial guna mengidentifikasi potensi dan kebutuhan masyarakat di setiap wilayah, sehingga program pemberdayaan yang diberikan dapat disesuaikan dengan kondisi serta sumber daya yang dimiliki masyarakat setempat.
“Misalnya, suatu wilayah memiliki potensi perikanan seperti di Kampar, maka program yang dikembangkan harus sesuai dengan potensi tersebut. Jangan sampai program dibangun, tetapi tidak cocok dengan sumber daya alam yang tersedia di wilayah itu,” jelas Victorio.
Selain itu salah satu program pemberdayaan lainnya yang perhatian PHR adalah Ruang Setara yang sudah dibangun di Kota Pekanbaru. Ini merupakan sebuah kafe inklusif yang memberikan kesempatan kerja kepada penyandang disabilitas. Menurut Victorio, hingga saat ini terdapat tiga pekerja disabilitas yang terlibat dalam operasional kafe tersebut.
“Kami juga menjalankan program pengembangan UMKM, di antaranya Batik Dumai, pada bidang pendidikan, perusahaan juga memberikan beasiswa bagi masyarakat Suku Sakai serta menyelenggarakan pelatihan keterampilan,” tambah Victorio.
Officer Media Relation Zona 4 PHR ini menegaskan, keberhasilan program TJSL tidak hanya diukur dari bantuan atau pelatihan yang telah diberikan, tetapi juga dari kemampuan masyarakat untuk mandiri setelah mendapatkan pendampingan. Karena itu, PHR secara berkala melakukan monitoring dan evaluasi terhadap perkembangan setiap program.
“Indikator keberhasilan program adalah ketika masyarakat sudah bisa berdikari. Untuk menilai keberhasilannya, kami melakukan monitoring dan evaluasi. Biasanya dalam rentang tiga sampai lima tahun, apabila target strategis sudah tercapai, program dapat memasuki tahap exit,” tutupnya. (sal)