Kolam area budidaya ikan Nila Salin yang dikembangkan oleh masyarakat sekitar dengan bantuan dari Pertamina RI II Sei Pakning. SEI PAKNING, KHAZANAHRIAU.COM - Di Desa Pangkalan Jambi, Kecamatan Bukit Batu, Kabupaten Bengkalis, terdapat sebuah kelompok tani yang berhasil mengubah nasib melalui inovasi budidaya ikan nila di air payau. Dukungan PT Kilang Pertamina Internasional (PT KPI) Refinery Unit II Sei Pakning membuat usaha mereka terus berkembang.
Dipimpin oleh Alpan selaku Koordinator Kelompok Tani Harapan Bersama, mulai 2022 mereka telah menemukan cara untuk membudidayakan ikan nila tanpa menggunakan air tawar, melainkan air laut.
Kolam budidaya memiliki kedalaman 2 meter dan luas 20 x 25 meter. Sistem pengairan diatur melalui pipa tanpa menggunakan pompa listrik. Sistem ini dapat berjalan karena budidaya air payau mendapat manfaat dari alur pakan yang dibawa oleh air pasang laut.
Budidaya ikan nila di air payau ini dimulai dengan membiasakan ikan-ikan tersebut beradaptasi dengan kolam berisi air laut. Setelah beberapa waktu, benih ikan ditebar ke kolam. Hasilnya, ikan nila dapat hidup dan berkembang biak dengan baik.
Seiring berjalannya waktu, metode ini menunjukkan sejumlah keunggulan. Dimana, waktu pemeliharaan lebih cepat. Cukup empat bulan agar ikan bisa dipanen. Jika di air tawar, panen baru dapat dilakukan lima hingga enam bulan setelah bibit ditebar.
Hingga saat ini, kelompok tani itu sudah tiga kali panen. Panen pertama menghasilkan sekitar 1,1 ton. Namun panen kedua dan ketiga jumlahnya menurun akibat serangan hama. Hasil panen itu dijual dengan harga Rp 45 ribu per kilogram.
Dari tiga kali panen, kelompok tani ini berhasil mengumpulkan Rp 7 juta hingga Rp 8 juta, sehingga sebagian keuntungan mereka gunakan untuk membeli bibit baru. Alpan menceritakan, rasa ikan dari hasil panen mereka tak berubah dari nila pada umumnya. Meskipun dibudidayakan di air laut yang asin, rasa ikan tetap tawar dan lebih enak.
Cerita keberhasilan Kelompok Tani Harapan Bersama tidak bisa lepas dari dukungan PT Kilang Pertamina Internasional (PT KPI). Perusahaan yang beroperasi di Sei Pakning ini banyak membantu. Mulai dari pembuatan kolam, penyediaan pakan, membangun pagar, menyediakan bibit, hingga mendirikan saung untuk rumah jaga.
Pertamina sangat mendukung keseriusan kelompok tani ini, sehingga semua kebutuhan mereka terpenuhi. Tak heran, sejak aktivitas budidaya ikan dimulai pada 2017, hingga kini kelompok tani ini tetap solid dan bersinergi.

Peran Pertamina mendukung Kelompok Tani Harapan Bersama juga mendorong terjadinya transformasi desa hijau di daerah itu. Sebelum bantuan Pertamina ada, daerah ini dikenal sebagai area gersang. Tak ada pohon kayu yang tumbuh di sana. Hanya semak-semak yang membuat area itu tampak biasa-biasa saja.
Namun, atas inisiatif anggota kelompok tani dan masyarakat yang peduli lingkungan, mereka mulai menanam mangrove untuk mencegah abrasi. Pihak Pertamina pula yang melatih mereka menanam mangrove dengan benar. Termasuk memilih bibit yang cocok ditanam di kawasan itu.
Alpan menyebut, ada sembilan jenis bibit mangrove yang cocok ditanam di Desa Pangkalan Jambi. Di antaranya Bakau, Piapi, Nipah, dan Baru-baru. Meskipun awalnya dicemooh, usaha mereka akhirnya berbuah manis ketika Pangkalan Jambi dinobatkan sebagai Desa Hijau. Abrasi yang dulu menggerus daratan bisa dihentikan.
Dari area gersang dan tak enak dipandang, Pangkalan Jambi kini lebih dikenal sebagai desa wisata mangrove. Tempat itu kerap dikunjungi wisatawan dan pelajar yang ingin bersantai maupun menambah wawasan tentang mangrove. Pengunjung datang dari berbagai daerah seperti Siak, Duri, Dumai, bahkan Malaysia.
Rata-rata, dalam sehari 100 tiket masuk dibeli pengunjung. Jumlahnya lebih banyak lagi di akhir pekan. Harga tiket masuk Kawasan Wisata Mangrove ini pun tergolong ramah di kantong. Hanya Rp 2.000 per orang.
Supaya keuangan terkelola lebih baik, kelompok tani ini bergabung dalam Koperasi Berkah Jaya Bersama. Sedikit demi sedikit, mereka membenahi dan melengkapi fasilitas di kawasan itu. Termasuk menyediakan wahana bermain dan homestay.
Di samping itu, kaum ibu yang ada di desa tersebut juga ambil bagian mengolah makanan dari hasil tangkapan nelayan. Sehingga mereka memiliki penghasilan sendiri dan membantu perekonomian keluarga.
Kini, di atas lahan yang telah diwakafkan oleh pemiliknya, Kelompok Tani Harapan Bersama terus berkembang. Dari awalnya 11 orang, anggotanya kini bertambah menjadi 44 orang. Mereka dibagi menjadi tiga kelompok kerja atau Pokja.
Selain Pokja yang fokus pada budidaya ikan, ada juga Pokja pengolahan makanan ringan dari buah mangrove dan ikan hasil budidaya. Di samping itu, ada juga Pokja pelestarian mangrove. Alpan berharap inovasi dan kerja keras yang mereka lakukan terus membawa manfaat bagi lingkungan dan ekonomi desa.
Alpan dan Kelompok Tani Harapan Bersama telah membuktikan bahwa dengan inovasi, kerja keras, dan dukungan yang tepat, seperti yang diberikan Pertamina, mereka dapat mengubah nasib dan mengembangkan potensi desa menjadi lebih baik.
.jpeg)
Tergugah
Seriusnya Kelompok Tani Harapan Bersama menunjukkan kepedulian terhadap kondisi pesisir pantai timur Provinsi Riau menjadi alasan Pertamina tergugah untuk turun tangan. Terlebih, tujuan kelompok ini sangat baik. Yaitu menyelamatkan kawasan pesisir dari ancaman abrasi agar hijau kembali.
Dalam pergerakannya, Pertamina juga berupaya agar program-program yang dilaksanakan bisa memberdayakan masyarakat. Sehingga di satu sisi mereka juga mendapat keuntungan ekonomi dari kegiatan yang dilakukan.
"Bukan sebatas melakukan perbaikan lingkungan, tapi juga memberikan keuntungan lain seperti mata pencaharian bagi mereka. Sehingga sirkulasi ekonomi bisa terbangun," ungkap Area Manager Communication, Relations and CSR PT KPI Kilang Dumai, Agustiawan.
Sebenarnya, keterlibatan Pertamina sudah dimulai sejak 2017 dalam wujud pelatihan menanam dan budidaya mangrove. Selanjutnya, melatih bagaimana mengolah makanan dan minuman berciri khas mangrove. Saat ini, intervensi berkembang dengan memberi pelatihan pada warga tentang budidaya ikan di air payau.
Langkah ini dilakukan agar masyarakat yang berlatar nelayan tangkap tetap punya alternatif penghasilan saat kondisi tak memungkinkan untuk melaut. Hasilnya berbuah positif. Desa Pangkalan Jambi kini bertransformasi menjadi kawasan wisata mangrove. "Berwisata sembari dapat edukasi tentang mangrove dan ekosistem lingkungan.
Upaya Pertamina melakukan pengembangan masyarakat secara berkesinambungan di Desa Pangkalan Jambi ini juga menjadi salah satu program yang diajukan untuk PROPER Emas di 2024. PROPER atau Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan merupakan evaluasi kinerja penanggung jawab dan/atau kegiatan usaha dalam bidang Pengelolaan lingkungan hidup yang dilaksanakan oleh Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).
Sementara, passing grade Emas merupakan penghargaan tertinggi yang dianugerahkan kepada perusahaan yang terbukti telah menerapkan sistem manajemen lingkungan yang baik. PT KPI RU II Sei Pakning sudah enam kali mendapat PROPER Emas. “Insyaallah tahun ini kita bisa pertahankan dan mendapat yang ke tujuh kali,” ungkap Rahmad Hidayat, JR Officer CSR PT KPI RU II Unit Sei Pakning.(ayu)