TEL AVIV, KHAZANAHRIAU.COM - Meski sudah dibombardir habis-habisan oleh IDF, Gaza ternyata masih menjadi tempat pejuang perlawanan mewujudkan Palestina merdeka. Hamas beserta para pendukungnya masih angkat senjata dan menghabisi tentara Israel suruhan Benjamin Netanyahu.
Serangan IDF setelah gencatan senjata tahun ini merupakan bentuk pengkhianatan negara zionis pimpinan Benjamin Netanyahu terhadap perjanjian yang sudah disepakati. Agresi tersebut mengakibatkan wajib perang yang semula sudah seharusnya istirahat, kembali angkat senjata ke medan tempur. Mereka mengalami kelelahan bahkan burnt out.
Namun Netanyahu bersama koalisi ekstremis sayap kanannya mengabaikan hal tersebut. Mereka lebih memilih opsi menghabisi Hamas, sesuatu yang sulit untuk direalisasikan. Karena sejak 2023 hingga Januari tahun ini IDF membombardir Gaza habis-habisan, gagal menghabisi gerakan perlawanan tersebut.
Hamas tetap saja tampil berseragam dan bersenjata lengkap melepas sandera sandera Israel yang melambaikan tangan, tersenyum, bahkan mencium pasukan Hamas. Kemudian mereka pergi menjumpai relawan PMI yang mengantarkan mereka kembali ke Israel.
Hamas tetap kuat, mengakar hingga ke jantung bumi. Gerakan ini akan tetap merealisasikan Palestina merdeka, yang terbebas dari penjajahan Israel. Kemudian menjadikan Yerusalem, tempat masjid al Aqsha berada, sebagai ibu kota negara tersebut.
Apakah warga Israel memprioritaskan pemusnahan Hamas atau membebaskan sandera?
Sebuah jajak pendapat yang dilakukan oleh Viterbi Family Center for Public Opinion and Policy Research, yang berafiliasi dengan Israel Democracy Institute, menunjukkan bahwa hampir separuh warga Israel, 49%, tidak percaya bahwa adalah mungkin untuk mengatur pemulangan tahanan yang tersisa di Jalur Gaza sementara pada saat yang sama "menggulingkan Hamas dan menyingkirkannya dari kekuasaan di Jalur Gaza."
Lembaga tersebut menambahkan bahwa 46% "percaya atau yakin" bahwa hal ini dapat dicapai.
Jajak pendapat tersebut juga menemukan bahwa "68% memprioritaskan pengembalian tahanan, dan 25% memprioritaskan penggulingan Hamas, jika mereka harus memilih hanya satu opsi."
Pertanyaan tersebut sebelumnya diajukan pada bulan Januari 2024 dan September 2024, sementara hasil yang lebih baru menunjukkan bahwa "persentase mereka yang lebih memilih pengembalian tahanan sebagai tujuan paling penting terus meningkat, sementara persentase mereka yang memprioritaskan penggulingan Hamas justru menurun."
Di antara mereka yang meyakini bahwa "menggulingkan Hamas adalah prioritas," 74% peserta meyakini bahwa "kedua tujuan tersebut dapat dicapai secara bersamaan," sementara 59% peserta yang meyakini bahwa memulangkan tahanan adalah prioritas meyakini bahwa kedua tujuan tersebut tidak dapat dicapai secara bersamaan.
Perlu dicatat bahwa sekitar 59 tahanan Israel masih ditahan oleh perlawanan Palestina di Gaza, sementara militer Israel memperkirakan bahwa 35 dari mereka telah terbunuh di tengah pemboman dan pengepungan brutal Israel yang sedang berlangsung di Jalur Gaza.
Juru bicara militer Brigade Qassam, Abu Obeida, mengatakan, "Jika musuh khawatir dengan nyawa para tahanan ini, mereka harus segera berunding untuk mengevakuasi atau membebaskan mereka. Siapa pun yang memberi peringatan akan dimaafkan."
Abu Obeida menganggap pemerintahan Benjamin Netanyahu bertanggung jawab atas nyawa para tahanan, dengan mengatakan, "Jika pemerintah peduli terhadap mereka, mereka akan mematuhi perjanjian yang ditandatangani pada bulan Januari, dan sebagian besar dari mereka mungkin sudah berada di rumah mereka hari ini."
Negosiasi untuk bebaskan sandera
Akibat tekanan publik yang meningkat, pemimpin otoritas Israel Benjamin Netanyahu pada Senin (14/4) menyatakan tengah melangsungkan “pembicaraan intensif” guna mengamankan pembebasan para sandera di Jalur Gaza.
Publik menekan Netanyahu menyusul keputusannya membatalkan kesepakatan gencatan senjata dan melanjutkan kembali perang, menurut pernyataan dari kantornya yang dikutip surat kabar Maariv.
Selain itu, pernyataan tersebut mencuat tak lama setelah Hamas mengumumkan bahwa pihaknya sedang mengkaji proposal baru terkait gencatan senjata dan pertukaran tahanan yang diajukan oleh para mediator.
Mesir, Qatar, dan Amerika Serikat sebelumnya telah menengahi kesepakatan gencatan senjata bertahap antara Israel dan Hamas pada Januari. Namun, sebagaimana dicatat Maariv, Israel melanggar kesepakatan tersebut dengan kembali melancarkan perang secara sepihak pada bulan Maret.
Kantor Netanyahu menyebutkan bahwa ia telah melakukan pembicaraan dengan ibu dari tiga sandera -- Tamir Nimrodi, Avinatan Or, dan Eitan Horn -- dan menjelaskan upaya-upaya yang dilakukan untuk memulangkan mereka, sekaligus memastikan adanya proses negosiasi.
Netanyahu berjanji akan mengupayakan pemulangan semua sandera “baik dalam keadaan hidup maupun wafat,” menurut pernyataan resmi tersebut.
Pernyataan itu disampaikan di tengah lonjakan tekanan publik, di mana ribuan tentara cadangan dan warga sipil dari berbagai sektor telah bergabung dalam kampanye petisi selama 48 jam terakhir, mendesak pemerintah agar memprioritaskan pembebasan para sandera, meskipun harus menghentikan perang.
Israel memperkirakan ada 59 sandera yang masih berada di Gaza, dengan 24 di antaranya diyakini masih hidup. Sementara itu, lebih dari 9.500 warga Palestina ditahan di penjara-penjara Israel, menghadapi penyiksaan, kelaparan, dan pengabaian medis yang telah menyebabkan banyak kematian, menurut laporan media dan lembaga hak asasi manusia dari Palestina maupun Israel.
Hamas pada Senin menyampaikan bahwa pihaknya sedang mengkaji proposal mediator terkait gencatan senjata dan pertukaran tahanan, dan menyebut bahwa kepemimpinan mereka menanggapinya “dengan tanggung jawab nasional yang tinggi” serta akan memberikan jawaban resmi setelah konsultasi internal.
Hamas menegaskan kembali bahwa setiap kesepakatan harus mencakup gencatan senjata permanen, penarikan penuh pasukan Israel dari Gaza, pertukaran tahanan yang nyata, rekonstruksi wilayah yang hancur akibat perang, serta pengakhiran blokade terhadap rakyat Palestina.
Sejak agresi militer Israel dimulai pada Oktober 2023, hampir 51.000 warga Palestina -- mayoritas perempuan dan anak-anak -- telah tewas di Gaza dalam serangan brutal yang terus berlangsung.
Pada November lalu, Mahkamah Pidana Internasional (ICC) mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Netanyahu dan mantan kepala pertahanan, Yoav Gallant, atas tuduhan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Gaza.
Israel juga tengah menghadapi gugatan genosida di Mahkamah Internasional (ICJ) atas serangan militernya di wilayah tersebut. (*)