Kena Mental, 38 Tentara Israel Bunuh Diri

Jumat, 03 Januari 2025 | 03:34:00 WIB
Tentara Israel membawa peti mati tentara Israel, saat pemakamannya di pemakaman militer Gunung Herzl di Yerusalem, 25 Oktober 2024. Israel akan menambah 600 makam lagi bagi tentara.Foto: EPA-EFE/ABIR SULTAN

TEL AVIV, KHAZANAHRIAU.COM – Pasukan penjajahan Israel (IDF) mengumumkan pada Kamis bahwa 891 tentara telah tewas selama perang tahun 2023-2024. Jumlah itu termasuk lonjakan kasus bunuh diri menjadi 38 kasus selama periode tersebut.

Mengutip IDF, Jerusalem Post melansir bahwa sekitar 558 tentara tewas pada tahun 2023 dan 363 tentara tewas pada tahun 2024.  Pada 2023, 512 orang tewas dalam pertempuran dan operasi, tiga akibat serangan lokal, 10 karena masalah kesehatan alami, dan 17 karena bunuh diri.

Sedangkan pada 2024, 295 orang tewas dalam pertempuran dan operasi, 11 orang karena serangan lokal, 13 orang karena masalah kesehatan alami, dan 21 orang karena bunuh diri. Lebih dari 5.500 tentara terluka selama perang.

Dari 17 kasus bunuh diri pada tahun 2023, 9 orang adalah prajurit wajib, 4 orang perwira, dan sembilan prajurit cadangan. Dari 21 kasus bunuh diri pada tahun 2024, 7 orang adalah prajurit wajib, 2 orang perwira, dan 12 cadangan.

Angka-angka tersebut menunjukkan lonjakan signifikan. Pada 2022, hanya ada 14 kasus bunuh diri, dan tidak ada satupun yang merupakan pasukan cadangan. Pada tahun 2013, 2018, dan 2020, angka bunuh diri berada pada angka satu digit. Jumlah kasus bunuh diri tertinggi dalam 24 tahun terakhir terjadi pada tahun 2005, yaitu 36 kasus.

Namun, tren negatif ini menciptakan keraguan terkait argumen IDF bahwa mereka telah berbuat cukup banyak di bidang kesehatan mental untuk membantu tentara. Sejauh ini belum ada solusi soal bagaimana IDF menangani gangguan stres pascatrauma dalam skala yang lebih luas.

Dari 891 kematian tentara Israel setahun belakangan, 390 kematian terjadi di Gaza pada 2024, dan 329 kematian terjadi pada tahun 2023, termasuk tanggal 7 Oktober, dan lainnya terjadi di Lebanon, wilayah Utara, dan Tepi Barat.

Dalam hal total kerugian, perang pembersihan etnis Palestina pada 1948-1949 masih merupakan yang terburuk, dengan lebih dari 6.000 orang Israel tewas, termasuk sekitar 4.000 tentara.

Perang Yom Kippur tahun 1973 masih berada di urutan kedua dengan jumlah korban tewas sekitar 2.650 tentara. Namun Jerusalem Post menganalisis bahwa jika perang saat ini terus berlanjut, kemungkinan besar tentara yang tewas akan melampaui jumlah tersebut.

Sekitar 657 tentara tewas selama Perang Lebanon tahun 1982 dan tahun-tahun berikutnya. Dalam beberapa tahun terakhir, angka kematian tentara tertinggi sebelumnya terjadi pada tahun 2002, yaitu 235 orang.

Selanjutnya, IDF menyebutkan terdapat sembilan kematian akibat kecelakaan di jalan raya pada tahun 2023 dan 20 kematian pada tahun 2024. IDF mengatakan pihaknya sedang berupaya memperbaiki hal tersebut tetapi tidak memberikan keterangan secara spesifik.

Channel 14 Israel sebelumnya mengungkapkan gelombang besar pengunduran diri massal yang mencakup sejumlah besar perwira dan pejabat di departemen juru bicara militer Israel, Daniel Hagari, sebagai protes terhadap pelaksanaan operasi militer di Jalur Gaza.

Laporan pers mengungkapkan bahwa tentara di pasukan elit dan brigade cadangan mengumumkan penolakan mereka untuk bergabung dengan tentara untuk berpartisipasi dalam perang di Gaza.

Surat kabar Haaretz melaporkan dalam sebuah laporan bahwa sekelompok tentara Israel di Brigade elit Givati ​​​​menolak untuk berpartisipasi dalam perang di Jalur Gaza. Mereka menuduh para jenderal mengabaikan keselamatan psikologis dan fisik mereka.

Dalam konteks ini, Radio Israel mengindikasikan adanya kekacauan di tingkat organisasi di beberapa batalyon cadangan. Media itu menambahkan bahwa beberapa tentara meninggalkan medan perang dengan persetujuan petugas yang bertanggung jawab atas mereka. Hal itu dilakukan setelah mereka merasa diterjunkan ke Jalur Gaza untuk melaksanakan misi tempur di luar kemampuan dan kapasitas mereka.

Penulis dan peneliti politik Moin Manna percaya bahwa perang di Gaza merupakan kegagalan besar bagi tentara pendudukan yang menghabiskan kekuatan mereka, terutama pasukan darat, yang telah bobrok akibat serangan perlawanan. Dia menunjukkan bahwa permintaan yang berulang-ulang untuk gencatan senjata adalah manifestasi dari kelelahan yang dialami oleh pendudukan di Gaza.

Moin Manna juga mengungkapkan bahwa sejumlah anggota militer sekarang terpaksa meminta penasihat hukum karena takut dibunuh oleh rekan-rekan jika tertawan pejuang Palestina sesuai skema Protokol Hannibal. Protokol itu adalah tindakan untuk mencegah tentara IDF ditawan pejuang Palestina dengan cara apapun meskipun itu berarti membunuh tentara yang berpotensi ditahan. Perlu dicatat bahwa data tentara Israel menunjukkan bahwa puluhan tentara tewas dan ratusan lainnya terluka karena ditembak teman sendiri sejak dimulainya pertempuran darat di Jalur Gaza pada 27 Oktober 2023.

Surat kabar Israel Hayom melansir pada Kamis, ratusan perwira mengundurkan diri dari militer pada puncak perang. Sejak kuartal kedua tahun ini, khususnya dalam enam bulan terakhir, sekitar 500 mayor telah secara sukarela meninggalkan militer.

Surat kabar tersebut menganggap bahwa ini adalah statistik yang "seharusnya mengguncang Israel," terutama pada saat tantangan keamanan semakin meningkat dan militer berencana untuk membangun kerangka tempur tambahan.

Israel Hayom menambahkan bahwa kepemimpinan militer Israel terkejut dengan besarnya fenomena ini, dan mengakui bahwa mereka memperkirakan gelombang pengunduran diri akan meningkat setelah perang, bukan selama perang. Laporan tersebut menyoroti bahwa militer yang memulai perang sudah bergulat dengan kekurangan prajurit yang parah. (*)

Terkini