Syuhada yang Berjalan di Muka Bumi

Rabu, 01 Januari 2025 | 18:09:00 WIB

JAKARTA, KHAZANAHRIAU.COM -- Thalhah bin Ubaidillah merupakan salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW yang dijamin masuk surga. Pahlawan Uhud ini telah melindungi Rasulullah SAW dan mendapat gelar "syahid yang berjalan di muka bumi."

Suatu ketika, Thalhah pergi ke Syam. Sebagai saudagar di sana, dia berdagang. Bersama kafilah dagang lainnya, Thalhah berangkat. Meski masih muda, Thalhah punya kelebihan dalam strategi berdagang. Ia cerdik dan pintar hingga dapat mengalahkan pedagang-pedagang lain yang lebih tua.

Tiba di Basrah, sebuah kota di wilayah Syam, para pedagang itu segera memasuki pasar. Saat itulah, peristiwa menarik dialami oleh Thalhah. Bahkan, peristiwa ini telah mengubah total garis hidupnya.

Tiba-tiba seorang pendeta berteriak-teriak, "Wahai para pedagang, adakah di antara tuan-tuan yang berasal dari Kota Makkah?"

Kebetulan Thalhah berdiri tak jauh dari pendeta itu. Segera ia menghampirinya. Ya, aku penduduk Makkah, sahut Thalhah.

"Sudah munculkah di tengah-tengah kalian orang yang bernama Ahmad?" tanya pendeta kepadanya.

"Ahmad, di mana? Ahmad bin Abdullah bin Abdul Muthalib. Bulan ini pasti muncul sebagai nabi penutup para nabi. Kelak ia akan hijrah ke negerimu, pindah dari negeri batu-batu hitam yang banyak pohon kurmanya. Ia akan pindah ke negeri yang subur makmur, memancarkan air dan garam. Sebaiknya engkau segera menemuinya, wahai Anak Muda!" saran pendeta itu.

Ucapan pendeta itu begitu membekas di hati Thalhah. Ia segera menggaet untanya dan pulang kembali ke Makkah. Tak dihiraukannya kafilah dagang yang masih sibuk di pasar itu. Sampai di Makkah, Thalhah bertanya kepada keluarganya, "Apakah ada peristiwa penting yang terjadi di Makkah sepeninggalku?"

"Ada. Muhammad bin Abdullah mengatakan dirinya nabi. Abu Bakar memercayainya dan telah mengikuti apa yang dikatakannya," jawab mereka.

"Aku kenal Abu Bakar. Dia seorang yang lapang dada, penyayang, dan lemah lembut. Dia pedagang yang berbudi tinggi dan teguh. Kami berteman baik."

"Banyak orang yang menyukai majelisnya karena dia ahli sejarah Quraisy dan mengetahui silsilah keturunan suku itu," gumam Thalhah lirih.

Setelah itu, ia langsung mencari Abu Bakar dan menanyakan kabar yang didengarnya. "Benarkah Muhammad bin Abdullah telah menjadi nabi dan engkau mengikutinya?"

"Betul," jawab Abu Bakar.

Kemudian ia menceritakan kisah Muhammad SAW sejak peristiwa pertama di Gua Hira sampai turunnya ayat pertama. Tak lupa setelah itu, Abu Bakar mengajak Thalhah untuk masuk Islam.

 

Hijrah

Thalhah berhijrah ke Madinah sewaktu kaum Muslimin diperintahkan untuk hijrah. Diikutinya semua perang bersama Rasulullah SAW kecuali Perang Badar. Thalhah dan Sa'id bin Zaid diutus Rasulullah dalam sebuah urusan. Namun, Thalhah tetap mendapatkan keutamaan ahlul Badar dan mendapatkan bagian rampasan perang.

Dan sungguh, Perang Uhud adalah perangnya Thalhah. Kepahlawannya gemilang dalam membela Rasulullah dan kaum Muslimin. Peperangan dahsyat yang berkecamuk menjatuhkan syuhada dan korban yang banyak di kalangan musyrikin Makkah.

Kegemilangan hampir tercapai, tapi godaan dunia membuat pemanah di bukit tergoda dan tidak menaati perintah Rasulullah. Keadaan balik berganti, pasukan kaum Muslimin terdesak dan gugurlah para huffaz. Melihat itu, Thalhah hanya berfokus mencari di mana keberadaan kekasihnya Rasulullah SAW.

Dilihatnya dari jauh Rasulullah SAW bercucuran darah, maka diterjanglah pasukan Quraisy. Didapatinya sosok Rasul terkasihnya terluka dan darah mengalir. Maka diraihnya Nabi dengan tangan kiri dari lubang tempat kakinya terperosok.

Sambil memapah Rasul yang mulia dengan dekapan tangan kiri ke dadanya, ia membawa Rasulullah ke tempat yang aman. Sementara, tangan kanannya mengayun-ayun pedang bagaikan kilat yang menyabet orang musyrik.

Mari dengarkan kesaksian Abu Bakar as-Shidiq tentang kepahlawanan Thalhah di Perang Uhud. Dari Aisyah dia berkata, "Bila disebutkan Perang Uhud, maka Abu Bakar selalu berkata: 'Itu semua adalah harinya Thalhah!' Aku adalah orang yang mendapati Rasul setelah peperangan, maka berkatalah Rasul kepadaku dan kepada Abu Ubaidah ibnu Jarrah: Tolonglah saudaramu itu (Thalhah)!'

Kami lalu menengoknya dan ternyata pada sekujur tubuhnya terdapat lebih dari 70 luka tusukan tombak, goresan pedang dan tancapan panah dan ternyata pula anak jarinya putus, maka kami segera merawatnya dengan baik.

Mereka mengira Thalhah sudah gugur. Ternyata masih hidup. Karena itulah ia diberi gelar Syahid yang Hidup. Gelar itu diberikan Rasulullah melalui sabdanya, 'Siapa yang ingin melihat orang berjalan di muka bumi sesudah mengalami kematiannya, lihatlah Thalhah!'

Sejak itu, jika orang membicarakan Perang Uhud di hadapan Abu bakar, Abu bakar selalu menyahut, Perang hari itu adalah peperangan milik Thalhah seluruhnya."***(dikutip dari republika)


 

Terkini