Pengawal Presiden Palestina Mahmoud Abbas Tewas Akibat Bentrok di Jenin

Senin, 23 Desember 2024 | 20:13:35 WIB

TEPI BARAT, KHAZANAHRIAU.COM — Juru bicara pasukan keamanan Otoritas Palestina (PA) mengumumkan, pada Ahad (22/12/2024), Asisten Pertama Saher Arheel yang merupakan anggota pengawal Presiden Mahmoud Abbas, tewas. Sementara itu, dua orang lainnya cedera akibat bentrokan di kamp pengungsi Jenin, lapor Palestine Chronicle, seperti dikutip dari republika.

Sebelumnya pada hari yang sama, bentrokan hebat antara pasukan keamanan PA dan pejuang perlawanan kembali terjadi di dekat kamp Jenin. Bentrokan terjadi saat PA melanjutkan operasinya yang bertujuan untuk membubarkan kelompok perlawanan di wilayah tersebut.

Washington Post melaporkan bahwa sebuah pesawat drone Israel terlihat terbang di atas kamp Jenin selama operasi PA yang sedang berlangsung. Selama 18 hari berturut-turut, kamp Jenin berada di bawah blokade ketat yang diberlakukan oleh pasukan keamanan PA.

Warga melaporkan pemadaman listrik dan air setelah serangan terhadap generator listrik dan tangki air di kamp tersebut. Seorang pejabat Palestina yang dekat dengan Presiden Mahmoud Abbas, yang berbicara secara anonim kepada Washington Post, menyatakan bahwa Abbas telah memutuskan bahwa PA "akan menegakkan otoritasnya dan tidak ada jalan kembali".

Kota dan kamp Jenin tengah dilanda aksi mogok yang meluas, yang kini memasuki hari kesembilan. Hal tersebut seiring dengan ditutupnya sejumlah bisnis dan beralihnya sekolah ke pembelajaran jarak jauh.

Seorang komandan Batalyon Jenin – yang berafiliasi dengan Brigade Al-Quds, sayap bersenjata Gerakan Jihad Islam – mengungkapkan kritiknya seputar operasi keamanan  Otoritas Palestina (PA) yang sedang berlangsung di kamp pengungsi Jenin.

Dalam sebuah wawancara dengan Al-Jazeera pada Rabu (18/12/2024), komandan tersebut menuduh PA bertindak melawan kelompok perlawanan. Dia menegaskan, tindakan PA untuk melucuti senjata para pejuang bukanlah suatu pilihan.

Komandan tersebut juga mengungkapkan, Batalyon Jenin telah menghubungi pasukan keamanan PA  untuk menyelesaikan situasi yang meningkat. Meski demikian, permohonan mereka ditolak.“Kami mengirim perwakilan untuk berunding dan menemukan solusi, tetapi dinas keamanan menanggapi dengan arogan,” kata dia.

Ia menambahkan, tuntutan PA untuk melucuti senjata para pejuang perlawanan dan penolakan PA untuk mengizinkan operasi apa pun terhadap Israel tidak dapat diterima.

Komandan tersebut mengkritik pendekatan politik PA selama tiga dekade terakhir. Dia menyatakan bahwa pendekatan tersebut telah gagal menghasilkan sesuatu yang berarti bagi perjuangan Palestina.“Otoritas telah melaksanakan program politiknya selama 30 tahun, dan tidak mencapai apa pun,” kata dia.***

 

Terkini